Minggu, 25 Desember 2016

Pudarnya Romantisme Nevertiti

Bahagia itu bisa jadi sangat sederhana

Hei kawan,
Hari ini adalah hari pernikahan teman gw Nur dan Suaminya Marwan. Pernikahan kedua buat mereka berdua. Nur dicerai suami pertama 3 tahun lalu karena ga mau dimadu dan siwanita pengoda sudah terlalu jauh masuk kedalam kehidupan ruma tangga mereka. Sedangkan Istri Pak Marwan meninggal 3 bulan lalu karena kanker Payudara.

Pernikahan kedua dan sederhana.

Dan perasaan gw ga kaya biasanya setiap menghadiri pernikahan teman atau sahabat. Biasanya gw akan sedih dan menuntut dalam hati, ya Allah......aku kapan?
Mungkin masa-masa seperti itu sudah lama berlalu.


Awal datang pagi gw agak malas-malasan, malas mandi sebenarnya, hehehe. Dan ternyata akadnya memang diundur dua jam, maka jadilah gw tetap terhitung ontime dan bisa menyaksikan akad nikah. Tapiiiiii, oh ternyata bunga tangan pengantin wanita tidak ada dan tidak ada pula yang merasa bertanggung jawab seorangpun, termasuk tukang riasnya. How come? Dan sebagai single motorwati yang mengetahui medan pamulang dan sekitarnya jadilah gw yang jalan terkiwir-kiwir cari bunga, alhasil gw tetep ga bisa menyaksikan akad nikah Nur.

Oh iya, mungkinkah gw ga lagi merasa sedih atau terpuruk menyaksikan teman-teman menikah adalah efek karena ujian finansial yang bertubu-tubi akhir-akhir ini atau emang sudah masanya diusia 33 tahun ini tidak lagi terpengaruh dengan nuansa dan moment romantis. Heheheh



Tidak ada komentar:

Posting Komentar