Kamis, 15 Desember 2016

Merekonstruksi Jarak Antara Kita

Peserta Aksi Super Damai 212 berjumlah 7,5 Juta Orang

Makna SuperDamai 212,
Dalam setengah hari yang singkat, kita peserta aksi 212 sesungguhnya sedang memprint implementasi Islam kedalam perilaku dan adab. Kita print adab menerima tamu kepada saudara yang berjalan ratusan kilometer dari Ciamis, mereka menempati shaf pertama didepan panggung utama. Kita print perilaku cinta pada lingkungan dan kebersihan, ada ribuan santri-santriwati bersenjatakan sapu lidi. Kita print sebuah catatan mendasar tentang betapa berdamainya Islam dengan demokrasi, kita masih mengutamakan dialog dalam tekanan berat kepolisian dibidang transportasi. Disisi lain kita cetak untuk disaksisakan milliaran mata manusia, bahwa Islam punya adab terhadap pemimpin. Kita undang dan kita berikan kesempatan terbaik untuk presiden menyuarakan pandangannya, sekalipun intinya hanya 'selamat jalan dan pulanglah kalian dengan tertib'.

Sungguh, itu semua adalah prestasi yang gemilang. Prestasi kenegarawanan pribadi-pribadi Islam yang hadir dan penyokong terlaksananya SuperDamai212 ini. Prestasi yang persiapannya dalam jiwa setiap kita tidak semudah menulis angka satu. Kita mendapati, bahwa sesungguhnya jiwa bernegara kita jauh lebih dewasa dari apa yang kita kira.
Sebuah naska sejarah yang baru saja diprint dengan sangat indah dan menyejukkan.
Namun, tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna selain yang Maha Sempurna. Euforia dan keterkagetan kita terhadap prestasi yang tak terprediksi ini masih menyisakan satu catatan sumbang. Catatan adab terhadap pendapat yang berseberangan. Sebuah keniscayaan bahwa perbedaan itu adalah warna dunia. Berlindung pada euforia ini kita lebih muda menyudutkan serta menyandarkan kepada Superdamai212 yang memang damai. Timeline dan topik bicara kita dihiasi oleh keburukan saudara kita yang berbeda pendapat. Jika kita tarik lebih jauh, adakah yang kita lakukan merupakan bagian dari nahi munkar?
Jika kita berdalih itu sebagai kontra kemunkaran, sungguh dalam Islam kita tidak diajarkan membalas kemungkaran dengan kemungkaran. Namun juga kita tidak diajarkan 'jika pipi kiri ditampar maka berikanlah pipi kanan untuk tamparan berikutnya'. Disitulah izzah kita. Izzah Islam. Bahwa kemunkaran harus disikapi dengan tegas tapi elegan.
Perbedaan pendapat ini, sejak awal 2014 telah menciptakan ruang menganga yang cukup parah diantara kita, dalam satu payung agama, saudara seiman kita. Saling hujat, merasa hebat, merasa punya dadil yang tepat bahkan membengkakkan masalah-masalah kecil untuk materi memperluas jarak ukhuwah. Padahal, tidak sedikit dari mereka yang tersadar dengan kekhilafan namun seperti tak berani untuk pulang. Untuk menyuarakan pendapat dan sekedar menyatakan sebuah kekhilafan. Kenapa? Karena kita begitu keras menyikapi perbedaan. Maka cacatlah kematangan kita dalam membaik-kan akhlak sesama saudara seiman. Kita mungkin tengah alpa menerapkan Innamal mukminuna ikwah (Al-Hujurat:10).
Dengan semangat SuperDamai212 ini, selayaknya kita jadikan momen untuk merekonstruksi jarak diantara kita yang semakin hari semakin menganga. Sebagaimana kita menjadikan moment ini sebagai titik baik untuk sholat tepat waktu, kembali kemasjid dan sholat subuh berjamaah dimasjid. Rekonstruksi ulang ukhuwah bukan berarti kita membenarkan penyimpangan dan menerima keteledoran sebagai sebuah kebenaran. Bagaimanapun haq dan batil itu tidak akan pernah dijadikan berwarna abu-abu dalam bingkai apapun. Setidaknya kita kembali meringankan tangan kita untuk menyambut mereka yang ingin kembali pulang dan menjulurkan cahaya keimanan dan kedamaian agar mereka tau dimana jalan kita dan mereka mulai bersimpang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar