![]() |
| Aksi Bela ISlam Tiga (212) di Monas |
SAYA
KECEWA!!
Jujur,
saya tidak puas dengan aksi damai 212 ini. Bayangkan, dengan enam
juta orang yang datang dengan segala keringat darah. ENAM JUTA ORANG.
Dan kita hanya berdoa bersama dan sholat dibawah guyuran hujan,
jangankan mengetuk pintu pagar istana, jalan dari monas menuju istana
saja dijejelin kawat berduri dan kita pun tak hendak menyentuhnya.
Saya kecewa, sebegitu lemah lembut (baca: tak berdaya), sebegitu
pemaaf (baca : hingga tak tau apa itu harga diri), sebegitu pengecut
(sudah berjuta orang pun tak sanggup berbuat apa-apa) nya umat Islam
ini.
Buat
apa jauh-jauh berjalan kaki 300 kilo meter sampai kaki berdarah-darah
kalau hanya untuk sholat jumat berjamaah saja dilapangan dengan
guyuran hujan. Hanya begitu saja? Aksi ini aksi mahal!
Berapa
uang yang harus dikucurkan, berapa digit angka yang terkumpul dari
segala pengorbanan raknyat rendahan. Cincin yang sedang menempel
dijari, celengan plastik yang diisi dari menyisakan segenggam beras,
uang jajan anak SD yang mereka kumpulkan sepanjang Ciamin-Jakarta
demi berbagi kepada saudaranya, tetes darah dan jiwa yang dikorbankan
para santri yang bahkan belum baligh itu. Apa hasilnya, tho jika kita
tak bisa mengetuk dengan sedikit lebih keras kepada rezim NERAKA dan
koloni PENJAJAH ini. Percuma!
Dalam
kereta Commuter Line antara Tanah Abang – Serpong saya menggigil
kedinginan karena basah kuyup, lelah, kecewa, menangis dan tak rela.
Umat ini penakut. Sangat penakut.
Satu
jam perjalanan.
Waktu
yang cukup untuk memuncakkan kemarahan dan mencari akar jiwa yang
keseleo. Umar Ibnu Khatab. Jika beliau hidup hari ini, tentu beliau
juga akan mengatai kita dengan lantang. PENAKUT. Kenapa kalian yang
enam juta orang ini tak berdiam saja dalam selimut dari pada basah
kuyup kedinginan tanpa hasil apa-apa seperti ini. Kenapa?
Umar
Ibnu Khatap pernah melakukan ini. Umar Ibnu Khatap pernah protes
seperti saya hari ini. Tapi beliau yang syetan saja takut kepadanya
tentu dengan cara yang lebih dahsyat, bukan seperti saya yang hanya
bisa kesal kepada apapun diperjalanan pulang dan memasang tampang
jutek pada semua orang. Astagfirullah.
Perjanjian
HUDAYBIYAH,
Umar
Ibnu Khatap pernah memprotes kesepakatan itu. Karena menurut beliau
semua isi kesepakatan perjanjian HUDAYBIYAH adalah bentuk kekalahan
Islam kepada kebathilan. Bentuk kekalahan orang-orang yang sudah
merasa kuat dengan banyaknya jumlah dan gelar pemenang dari berbagai
perang besar seperti perang UHUD dan sesi akhir perang BADAR yang
melegenda itu dikaki para kafir Quraisy. Bentuk kekalahan sebuah
negara Madina ditangan kafir Quraisy Makkah yang masih bar-bar. Umar
Ibnu Khatab murka.
Dengan
jumlah pasukan 1500 orang, dengan orang kafir Quraisy yang
terbirit-birit ketakutan, dengan desas-desus Utsman bin Affan yang
dibunuh dengan licik oleh kafir Makkah itu, Rasulullah Saw menanda
tangani KESEPAKATAN DAMAI dengan musuh. Melakukan gencatan senjata
dalam kurun waktu yang sangat panjang. Sepuluh tahun. Wajar jika Umar
Ibnu Khatab murkah, tapi!
***
Dalam
perjalanan Tanah Abang – Jakarta saya tidak bisa tersambung dengan
internet. Sinyal masih di banned (wallahualam). Tidak bisa mencari
ada apa dengan perjanjian HUDAYBIYAH ini. Maka jawabannya saya
temukan setelah sampai dirumah. Dari beberapa buku yang ada dirumah
saya dapat simpulkan, betapa cerdik dan arifnya Rasulullah Saw dalam
menyikapi fase ini. Tidak jumawa karena jumlah ummat yang banyak,
tidak sombong dengan kemenangan dalam beberapa perang besar dan tak
lantas merasa diatas angin karena telah terbentuknya negara Madina
yang madani itu. Beliau berfikir dengan kaca mata zaman, tidak ada
kebaikan dalam ketergesaan.
Disini
kekhawatiran Umar Ibnu Khatab tidak terbukti, disini keuntungan besar
dan menggurita dimasa depan sedang dirajut, hanya mata yang jeli,
hati yang tenang yang sanggup melihat bersinarnya apa yang ada
dibalik nota perdamaian itu yang sesungguhnya,
Klausulnya:
- Orang Quraisy mengakui eksistensi kaum Muslimin
- Membuka peluang dakwah yang besar bagi Islam yang sebelumnya sibuk dengan pertempuran
- Banyak yang berbondong-bondong masuk Islam, seperti para pembesar Quraisy sekelas Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Utsman dan Talha dan dengan anggun surat-surat dakwah kepada para raza diluar Jazira Arab dikirimkan.
- Peluang kaum Muslimin untuk lebih fokus melawan orang-orang Yahudi, sehingga Ummat Islam menang atas Yahudi di perang Khaibar
- Kesempatan untuk menilai kawan, lawan dan orang-orang Munafik
Maka,
kelemah lembutan umat yang ENAM JUTA orang hari ini sesungguhnya
punya MISI kedepan yang luar biasa dahsyat, dibanding jika kita yang
ENAM JUTA orang tadi marah, cukup rasanya untuk membuat ISTANA
PRESIDEN rata dengan TANAH. Lihatlah :
- Kini eksistensi ummat islam Indonesia terpahat dimata terbelalak para agresor berwajah arogan negeri ini, mereka gentar.
- Lihatlah, aksi islam 411, 212 ini membuka peluang dakwah kita masuk kesemua lini berbangsa, semoga Panglima ABRI, KAPOLRI, jajaran elit pemerintahan dan bahkan PRESIDEN kita yang berwajah lugu ini bisa tersedot kedalam pusaran DAKWAH Islam dan memulai Tarbiyah Islamiyah Pertamanya. InshaAllah.
- Saya lupa nama beliau, kemaren ada berita tentang seorang Nasrani yang masuk Islam tertular Ghiroh pasukan santri Ciamis lalu masuk Islam kemudian langsung ikut aksi 212. ini sudah dimulai, bahkan dua hari sebelum aksi enam juta umat ini jadi nyata. Takbir!!!
- ini kesempatan kita untuk lebih fokus melawan musuh kita yang sesungguhnya, yaitu melawan perpecahan internal umat Islam Indonesia, yang selama ini untuk urusan tanggal satu Ramadhan dan satu Syawal aja bagai mau perang.
- lihatlah, dengan adanya aksi 411 dan 212 ini, di timeline media sosial, bertetangga dan jajaran politikus negeri ini pun kita bisa melihat, siapakah lawan, kawan dan golongan para munafikun berbahaya. Bukankah begitu saudaraku?
Kini,
semua telah kita mulai. Mari lanjutkan, sungguh perjuangan kedepan
tentu akan lebih berat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar