Jumat, 02 Desember 2016

Catatan Aksi Super Damai 212

Aksi Bela ISlam Tiga (212) di Monas


SAYA KECEWA!!

Jujur, saya tidak puas dengan aksi damai 212 ini. Bayangkan, dengan enam juta orang yang datang dengan segala keringat darah. ENAM JUTA ORANG. Dan kita hanya berdoa bersama dan sholat dibawah guyuran hujan, jangankan mengetuk pintu pagar istana, jalan dari monas menuju istana saja dijejelin kawat berduri dan kita pun tak hendak menyentuhnya. Saya kecewa, sebegitu lemah lembut (baca: tak berdaya), sebegitu pemaaf (baca : hingga tak tau apa itu harga diri), sebegitu pengecut (sudah berjuta orang pun tak sanggup berbuat apa-apa) nya umat Islam ini.

Buat apa jauh-jauh berjalan kaki 300 kilo meter sampai kaki berdarah-darah kalau hanya untuk sholat jumat berjamaah saja dilapangan dengan guyuran hujan. Hanya begitu saja? Aksi ini aksi mahal!

Berapa uang yang harus dikucurkan, berapa digit angka yang terkumpul dari segala pengorbanan raknyat rendahan. Cincin yang sedang menempel dijari, celengan plastik yang diisi dari menyisakan segenggam beras, uang jajan anak SD yang mereka kumpulkan sepanjang Ciamin-Jakarta demi berbagi kepada saudaranya, tetes darah dan jiwa yang dikorbankan para santri yang bahkan belum baligh itu. Apa hasilnya, tho jika kita tak bisa mengetuk dengan sedikit lebih keras kepada rezim NERAKA dan koloni PENJAJAH ini. Percuma!

Dalam kereta Commuter Line antara Tanah Abang – Serpong saya menggigil kedinginan karena basah kuyup, lelah, kecewa, menangis dan tak rela. Umat ini penakut. Sangat penakut.

Satu jam perjalanan.
Waktu yang cukup untuk memuncakkan kemarahan dan mencari akar jiwa yang keseleo. Umar Ibnu Khatab. Jika beliau hidup hari ini, tentu beliau juga akan mengatai kita dengan lantang. PENAKUT. Kenapa kalian yang enam juta orang ini tak berdiam saja dalam selimut dari pada basah kuyup kedinginan tanpa hasil apa-apa seperti ini. Kenapa?

Umar Ibnu Khatap pernah melakukan ini. Umar Ibnu Khatap pernah protes seperti saya hari ini. Tapi beliau yang syetan saja takut kepadanya tentu dengan cara yang lebih dahsyat, bukan seperti saya yang hanya bisa kesal kepada apapun diperjalanan pulang dan memasang tampang jutek pada semua orang. Astagfirullah.

Perjanjian HUDAYBIYAH,
Umar Ibnu Khatap pernah memprotes kesepakatan itu. Karena menurut beliau semua isi kesepakatan perjanjian HUDAYBIYAH adalah bentuk kekalahan Islam kepada kebathilan. Bentuk kekalahan orang-orang yang sudah merasa kuat dengan banyaknya jumlah dan gelar pemenang dari berbagai perang besar seperti perang UHUD dan sesi akhir perang BADAR yang melegenda itu dikaki para kafir Quraisy. Bentuk kekalahan sebuah negara Madina ditangan kafir Quraisy Makkah yang masih bar-bar. Umar Ibnu Khatab murka.

Dengan jumlah pasukan 1500 orang, dengan orang kafir Quraisy yang terbirit-birit ketakutan, dengan desas-desus Utsman bin Affan yang dibunuh dengan licik oleh kafir Makkah itu, Rasulullah Saw menanda tangani KESEPAKATAN DAMAI dengan musuh. Melakukan gencatan senjata dalam kurun waktu yang sangat panjang. Sepuluh tahun. Wajar jika Umar Ibnu Khatab murkah, tapi!

***

Dalam perjalanan Tanah Abang – Jakarta saya tidak bisa tersambung dengan internet. Sinyal masih di banned (wallahualam). Tidak bisa mencari ada apa dengan perjanjian HUDAYBIYAH ini. Maka jawabannya saya temukan setelah sampai dirumah. Dari beberapa buku yang ada dirumah saya dapat simpulkan, betapa cerdik dan arifnya Rasulullah Saw dalam menyikapi fase ini. Tidak jumawa karena jumlah ummat yang banyak, tidak sombong dengan kemenangan dalam beberapa perang besar dan tak lantas merasa diatas angin karena telah terbentuknya negara Madina yang madani itu. Beliau berfikir dengan kaca mata zaman, tidak ada kebaikan dalam ketergesaan.

Disini kekhawatiran Umar Ibnu Khatab tidak terbukti, disini keuntungan besar dan menggurita dimasa depan sedang dirajut, hanya mata yang jeli, hati yang tenang yang sanggup melihat bersinarnya apa yang ada dibalik nota perdamaian itu yang sesungguhnya,

Klausulnya:
  1. Orang Quraisy mengakui eksistensi kaum Muslimin
  2. Membuka peluang dakwah yang besar bagi Islam yang sebelumnya sibuk dengan pertempuran
  3. Banyak yang berbondong-bondong masuk Islam, seperti para pembesar Quraisy sekelas Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Utsman dan Talha dan dengan anggun surat-surat dakwah kepada para raza diluar Jazira Arab dikirimkan.
  4. Peluang kaum Muslimin untuk lebih fokus melawan orang-orang Yahudi, sehingga Ummat Islam menang atas Yahudi di perang Khaibar
  5. Kesempatan untuk menilai kawan, lawan dan orang-orang Munafik

Maka, kelemah lembutan umat yang ENAM JUTA orang hari ini sesungguhnya punya MISI kedepan yang luar biasa dahsyat, dibanding jika kita yang ENAM JUTA orang tadi marah, cukup rasanya untuk membuat ISTANA PRESIDEN rata dengan TANAH. Lihatlah :

  1. Kini eksistensi ummat islam Indonesia terpahat dimata terbelalak para agresor berwajah arogan negeri ini, mereka gentar.
  2. Lihatlah, aksi islam 411, 212 ini membuka peluang dakwah kita masuk kesemua lini berbangsa, semoga Panglima ABRI, KAPOLRI, jajaran elit pemerintahan dan bahkan PRESIDEN kita yang berwajah lugu ini bisa tersedot kedalam pusaran DAKWAH Islam dan memulai Tarbiyah Islamiyah Pertamanya. InshaAllah.
  3. Saya lupa nama beliau, kemaren ada berita tentang seorang Nasrani yang masuk Islam tertular Ghiroh pasukan santri Ciamis lalu masuk Islam kemudian langsung ikut aksi 212. ini sudah dimulai, bahkan dua hari sebelum aksi enam juta umat ini jadi nyata. Takbir!!!
  4. ini kesempatan kita untuk lebih fokus melawan musuh kita yang sesungguhnya, yaitu melawan perpecahan internal umat Islam Indonesia, yang selama ini untuk urusan tanggal satu Ramadhan dan satu Syawal aja bagai mau perang.
  5. lihatlah, dengan adanya aksi 411 dan 212 ini, di timeline media sosial, bertetangga dan jajaran politikus negeri ini pun kita bisa melihat, siapakah lawan, kawan dan golongan para munafikun berbahaya. Bukankah begitu saudaraku?

Kini, semua telah kita mulai. Mari lanjutkan, sungguh perjuangan kedepan tentu akan lebih berat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar