Jumat, 18 November 2016

Tentang Iyut

Arti Sahabat
Menunggu KA di stasiun Tanah Abang, entah kenapa tiba-tiba aku dilintasi sebuah ingatan manis pilu. Sahabat masa kanak-kanakku. Yulfitriani namanya, tapi aku memanggilnya iyut. Teman yang manis, pintar dan selalu membelaku walau aku salah, saat itu, begitulah sahabat sejati itu menurutku dulu. Dia adalah supporter hebatku dalam melakukan banyak hal.
Seringkali dia harus curi-curi memakai sepeda kakaknya agar aku bisa mencoba sepeda Ontel mambo yang eksentrik itu. Karena kebut2an dengan sepeda sanki tidaklah menantang. Dia yang sering menyisihkan oleh2 untukku, bila ayah nya pulang dari luar kota. Kadang bila jumlahnya sedikit, ia menunggu esok hari untuk memakannya agar ketemu aku disekolah.
Kami pernah membolos di les sekolah demi bersepeda keliling kecamatan, dan kalau haus membeli tabu dipekarangan orang. Bukan karena uang nya, tapi kadang sang pemilik rumah memberikan tabu-tabu kesayangan nya itu karena pipi kami yang memerah letih banjir keringat berpacu sepeda keliling kecamatan. Dia tak pernah mengeluh menuruti kemauanku yang kecanduan hal-hal tak biasa itu.

Termasuk juga mengintip guru yang katanya pacaran diruang UKS, alhasil kami disidang guru bersangkutan. Kami tak takut, toh kami hanya ingin tau. Begitulah aku sering menyeret iyut kedalam pusaran bahaya-bahaya konyolku.
Kadang kami larut membaca sampai senja diatas pohon mangga atau jambu tetangga, hingga datang kawanan kelelawar dari arah muara yang mengusir kami pulang. Aku tau dia anak feminim yang tak neko2, tapi hanya menemani kegilaanku berpetualang. Sering ia berjam-jam menjadi pendengar terbaikku, ketika aku menarasikan hayalan-hayalan konyol yang kadang tak masuk akal. Kadang aku bercerita seolah kami adalah mentri-mentri kabinet orde baru, hanya karena aku hafal ke 36 pasal dalam UUD 45. Dan dia hanya menonton dan mengikuti mau nya aku apakah dia aku tugaskan sebagai Rudini (menteri dalam negeri) atau Harmoko (menteri penerangan) kala itu.
Hmmm, semua tentang dia itu indah, anak baik yang kadang kala sering pula aku isengin kalo usilku tak terkendali. Dia tak pernah marah, hanya sekali2 ngambek dan aku tak pernah mau membujuknya.
Namun keesokan harinya, dialah yang membujukku dengan membawakan bacaan apa saja untukku, karena dia tau, hanya bacaan yang bisa membuat aku menjadi cool dan berteman lagi dengan nya. Waktu itu aku merasa menang dan senang.
Hingga di SLTA kami harus berpisah, disanalah aku merasa betapa dia adalah sahabat yang takkan tergantikan. Tak pernah adalagi orang seperti dia, walau kalau dia sedang diisengin orang lain, maka akulah malaikat pelindungnya. Hmmm iyut, aku merindukan nya.
Selepas SLTA dia tak melanjutkan kuliah, bekerja sebagai buruh ke pulau Batam, dan disanalah kesedihan nya berawal, disana ia diperkosa keluarganya sendiri, lalu depresi dan lumpuh, karena kecelakaan yang merusak tulang belakangnya.
Aku pun selepas kuliah merantau untuk mengarang mimpiku sendiri, sejak perpisahan itu, pertama untuk terakhir aku bertemu dengan nya tahun 2009. Dia tak bisa apa-apa lagi, seperti bayi 2 bulan yang hanya tergolek lemah. Tak juga bicara, semua telah hilang, kecuali dia masih bernafas. Dan saat aku bertamu kekamarnya yang nyaman, udara segar dikaki pegunungan tak juga membuat nya mampu sekedar duduk, di dipan nyaman nya, ia hanya tersenyum. Hanya senyum, senyumnya masih semanis senyum petualangan kami dulu. Allah, betapa itu indahnya, karena sudah bertahun2 sejak kelumpuhan merenggutnya, ia tak pernah mampu tersenyum lagi. Aku memegangi tangan nya, menciumi leningnya, kening dan tangan yang sama saat kami berlomba sepeda keliling kecamatan 17 tahun silam. Aku sayang sahabatku, aku sayang iyut, Allah sembuhkan iyut, aku menangis didepannya, itu adalah mungkin air mata pertama dan terakhirku yang ia lihat. Tapi apa pedulinya aku, karena setelah kepergianku kembali kerantau, iyut pergi kepada Tuhannya, selamanya dan tidak ada lagi senyum ketulusan sahabat seperti iyut akan ku dapat.
Rabb, lapangkan rahmat kubur untuk nya, Tuhan ganjari lah ia surga dengan ketabahan nya dan demi beratnya ujian yang telah engkau ujikan kepadanya. Dia adalah sahabat yang mengisi masa kecilku dan tak pernah membuat aku sedih dan kesal, atas kebaikan nya itu, berikan ia surga terbaikmu ya Allah. Amin summa amin.
###iyut dulu keBatam menjadi buruh, dan esok buruh akan menyampaikan aspirasinya di may day, melihat barisan panjang itu walau ditelevisi, aku serasa melihat ada iyut didalam kerumunan itu, tak bersorak dan berteriak, karena dia anak yang baik dan tak suka kekasaran. Iyut sahabatku itu dulu buruh, tapi bagiku ia adalah guru. Dan senyum nya tak akan lagi aku temukan. Semoga ia bahagiah disana disisi Tuhan. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar