![]() |
| Koleksi Pribadi |
Novel yang bercerita
tentang penjajahan, cinta, budaya, dendam dan amarah, karya Afifa
Arfa.
Gw ga sedang membuat
sinopsis nya disini, tentu juga tidak sedang me-marketing-i novel
ini. Hanya sedang teringat kisah pelengkap dalam novelnya, bukan
kisah utama. Yaitu kisah cinta Sekar dan Jatmiko. Dimana Sekar jatuh
cinta pada Jatmiko karena kemahirannya menulis dan berfilsafat dan
berjiwa revolusi tak terkendali. Lalu Sekar akhirnya mendapatkan
hukuman enternering ke Belanda karena sikap Menentangnya pada
penjajah Belanda yang ditulari Jatmiko dan Jatmiko sendiri dibuang ke
Digul.
Trus?
Andaikan gw jadi Sekar,
gw ga akan pernah jatuh cinta pada Jatmiko yang berjiwa revolusi
menggelegak itu, tapi tentu saja ga akan memilih Rangga anak
bangsawan kaya raya pencinta Noni Belanda yang mabuk karena cinta.
Karena berdua mereka
tidak ada baiknya,
Jatmiko,
Orang seperti jatmiko itu
hanya akan berakhir dengan dua keadaan, pertama saat terdesak akan
berkoloni dengan penjajah, terutama saat uang sogokannya memadai, dan
yang paling besar kemungkinan adalah dia akan mati saat pemanasan,
saat perjuangan baru saja akan dimulai. Karena orang seperti ini
biasanya sangat pemberani tapi minim strategi. Jiwa revolusi tak
terkendali itu sangat diinginkan sebagai pemantik kemenangan oleh
penjajah. Maka ladies, jangan pilih laki-laki seperti Jatmiko.
Rangga,
Selain dalam film AADC II
dimana Rangga ini punya putaran purnama yang lama benar, maka
karakter seperti Rangga dalam De Winst ini adalah tipe pria Mabuk
Cinta, sama seperti Hanafi dalam Novel Salah Asuhan. Juga jangan
pilih tipe laki-laki semacam ini. Ingat, Corrie De Busse yang
digilainya dengan cinta ¾ mati tak pernah benar-benar ia jaga. Ini
tipe laki-laki seperti ini bukan pencinta sejati, bisa dikatakan jiwa
pemabuk yang dirasuki cinta. Mungkin jika Majnun jadi menikahi Laila
kasusnya akan serupa. Untung Laila meninggal duluan, jadi kisahnya
tetap manis secara abadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar