Minggu, 08 Januari 2017

KSATRIA BONYOK


Nama ayah atau ibu ditulisin dijalan raya sepulang sekolah oleh teman zaman SD itu artinya ejekan atau ngajak berantem. Gw ngalamin fase ini. Kalau kalian ngalamin juga, berarti kita sejaman masa kanak-kanaknya. Biasanya setelah ditulis dijalan raya, nama-nama itu akan diinjak sambil meloncat-loncat dan meneriakkan nama yang ditulis. Tak jarang juga hal-hal seperti ini memantik perkelahian dan saling jambak antar emak-emak. Seperti episode lanjutan dari perkelahian anak-anak mereka sepulang sekolah.

Dan sebagai ketua geng PUNCAK di SD negeri 36 Limau Sundai, gw tidak hanya merasa di bully kalau nama amma dan appa gw yang ditulisin dijalan, tapi juga nama orang tua dari anak-anak yang tergabung kedalam geng gw. Geng anak-anak yang butuh perlindungan. Karena kami adalah group anak-anak yang paling jauh tempat tinggalnya dari sekolah. Sekitar 9 km. Sedangkan anak-anak lain adalah penduduk sekitar SD itu saja. Kami memilih sekolalah sejauh ini bukan tanpa alasan, karena SD 36 Limau Sundai adalah SD Impres terunggul zaman itu. Dan orang tua kami menginginkan kami bersekolah ditempat terbaik, walau kenyataannya ada hal yang luput diperhatikan. Bahwa kami menjadi bulan-bulanan anak-anak sekitar karena kemungkinan kami mendapat pembelaan dari orang tua sangatlah tipis. Untuk bisa bertahan dan merasa aman, maka kekompakan adalah senjata utama yang bisa kami andalkan selain bersabar.

Orang paling usil se SD itu bernama Rudi, Andi dan Gustian. Karena Rudi dan Andi pulang kearah berlawanan, maka teman terusil yang sangat senang mengusili kami dengan menuliskan nama orang tua kami dijalanan adalah Gustian. Sehingga frekuensi berantem gw zaman SD yang paling sering sama Gustian ini. Padahal kalau difikir-fikir sekarang kenapa juga harus marah dengan nama orang tua kita yang ditulis dijalan. Tapi saat itu, tidak ada rasanya yang lebih hina saat nama orang tua kita ditulis dijalanan, trus teman yang menulis jingkrak-jingkrak cekikikan sedangkan kita diam tertunduk. Mungkin rasanya seperti melihat copet dimetromini lagi beraksi tapi kita hanya bisa diam. Jika tidak melakukan pembelaan, maka kami akan merasa bersalah telah durhaka kepada para orang tua kami.

Maka rutinitas pulang sekolah gw adalah berantem sama Gustian dan menenagkan para raknyat kerajaan PUNCAK yang gw pimpin jika menangis melihat nama ayah-ibunya tertulis dijalanan sambil diinjak-injak dan meloncat-loncat diatasnya.

Sedikit tentang Gustian :
Gustian tinggal bersama nenek yang sayang banget sama dia, ayah dan ibunya konon bekerja diluar kota dan dia akan lebih badung kalau neneknya datang untuk menjemput kesekolah. Dibawah proteksi neneknya yang berpenampilan menakutkan bagi kami, Gustian tumbuh menjadi lawan yang kami tak sanggup melawannya. Paling banter hanya adu mulut. Itulah yang gw lakukan setiap hari.

Suatu hari saat dikelas IV, kesabaran gw sudah habis. Harus berantem terus dengan orang yang sama dan alasan yang sama pula. Strategi diatur. Gw dan geng (anak-anak yang butuh perlindungan sebenarnya), mengatur langkah-langkah membekuk Gustian. Sala satu strategi adalah bertindak saat pengawalan neneknya tidak ada. Alias si nenek tidak datang menjemputnya, dan biasanya itu hari jumat. Kita akan eksekusi si jahil ini sampai bertekuk lutut dan kapok, seperti biasa setting tempatnya adalah jalan sepanjang SD – Simpang Masjid. Jalan antara SD 36 Limau Sundai dengan pertigaan menuju rumah Gustian. Tempat kami geng Puncak menarik nafas lega, karena sudah berpisah dari cucu manja dan jahil ini.

Semua berjalan sesuai rencana, dan Gustian tetap berulah menuliskan nama ayah dan ibu salah seorang dari personil kami.

Strateginya adalah akan ada sekelompok anak yang harus berjalan lebih dulu, begitu keluar kelas langsung lari dan membuat markas dipertengahan jarak SD – Simpang Masjid. Sedangkan gw dan beberapa anak lain berjalan lebih belakangan. Sehingga posisi Gustian and the Geng berada didalam pengawasan kami.

Bagitu dia selesai membuat nama ayah dari salah seorang diantara kami, gw langsung mengejar dia sekuat tenaga, kaget dikejar dadakan oleh beberapa orang dia pun lari tunggang-langgang. Dan dipertengahan jarak SD – Simpang Masjid sudah menunggu anggota geng Puncak siap dengan posisi menghadang. Melihat semua personil geng Puncak tiba-tiba begitu berani, maka semua geng Gustian pun mencoba lari berpencar kocar kacir kearah tak menentu. Sedangkan geng Puncak sudah terinstruksi bahwa sasaran utama kami adalah gustian dan kalau bisa tidak ada korban selain dia.

Begitu Gustian tertangkap pasukan penghadang, gw dan beberapa teman lain pun tiba. Sangat tidak etisnya semua pasukan gw mundur teratur, menyisakan gw dan Gustian face to face. Melihat kejadian itu gw bergidik. Anak perempuan kurus macam gw harus berhadapan satu lawan satu sama anak laki-laki bongsor macam Gustian. Oh God.

Kabur?
Gw sempat mempertimbangkan kata itu ditambah pula kecewa pada pasukan gw yang ternyata keberaniannya tak segagah saat briefing terakhir. Tapi itu artinya nyari gara-gara dan derita untuk kedepannya. Berhubung Gustian didepan gw juga terlihat habis kegarangannya dan tampak melempem seperti akan pari kena jaring, maka keberanian gw menjalar naik, seketika gw merasa jagoan. Merasa seorang pahlawati dari negeri jauh bernama Puncak dengan segala pernak-pernik siap tempur, baju zirah, tameng, pedang dan busur panah. Gustian yang tambun jadi begitu kecil didepan gw.

Andaikata sebaliknya, jika dia tetap segarang biasa, mata dibuat melotot dan tinju dari tangan tambunnya teracung, mungkin gw akan bersandiwara pura pura terjatuh dan pingsan saja. Agar dia kabur dan berteriak kegirangan, telah membuat benteng terakhir geng puncak jatuh pingsan. Tapi melihat dia ciut maka gw jadi merasa punya peluang. Eh tiba-tiba Gustian ini menangis memanggil neneknya sekuat suara. Membuat semua geng gw tertawa terpingkal-pingkal. Ops, dia juga masih sempat memaki gw dengan menyebut nama appa.

Ternyata keberaniannya hilang dibawa kabur oleh anggota gengnya yang sudah berlarian dipematang sawa dan sebagian berbalik menonton apa gerangan yang akan terjadi pada Gustian dari Jauh. Dia menangis menjerit-jerit tapi tetap merapalkan nama ayah dan ibu kami. Sepertinya dia punya waktu khusus untuk menghafal nama-nama itu. Lihat saja, dalam kondisi tertekan luar biasa seperti ini, dari sela-sela jeritannya tetap memekikkan nama orang tua anggota geng Puncak. Tidak ada ampun lagi, dengan kondisi terkepung aja dia masih merapal nama-nama suci yang membuat harga diri kami tercabik-cabik. Tidak bisa diampuni.

Pertarungan dimulai, gw mendorong Gustian sampai terjungkang ke jalan, merebut tas nya lalu melempar ke sawah (zaman itu masih ada sawah dipinggir jalan SD – Simpang Masjid). Saat Gustian mencoba berdiri gw dorong lagi, dorongan kali ini kearah sawah. Dia menggelinding dari pematang sawah yang sekitar 40cm lebih rendah dari jalan, lalu terjungkal kesawah yang siap untuk ditanamin padi. Itu berarti lumpur sawahnya sudah lembut dan basah. Sehingga seluruh badan Gustian penuh lumpur kecuali yang dialiri air mata, darah dari pojok bibirnya dan ingus. Melihat bibir Gustian berdarah, gw jadi merinding.

lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii”
Dan anggota geng puncak lari berhamburan meninggalkan Gustian yang meraung-raung dari dalam sawah. Tidak satupun dari kami yang mencoba melihat kisah apa yang terjadi dibelakang sana.

Kejam?

Ah itu kan kenakalan masa kanak-kanak.

Lalu esok paginya sebelum bel, gw menggigil ketakutan di cercah nenek Gustain didepan kelas. Sinenek yang menakutkan itu datang lebih pagi sebelum guru-guru pada datang. Agar punya cukup waktu untuk membalaskan dendam cucu kesayangannya yang kami habisi kemaren siang. Gw merapal surat Al-Baqara ayat 18
shumum bukmum 'umyun fahum layarjiun”
artinya : Mereka Tuli, Bisu dan Buta sehingga mereka tidak dapat kembali

Kata nenek gw, jika ada anjing galak, orang jahat, orang gila, atau binatang buas yang menjahati kita atau mengejar kita, maka bacakan ayat ini setelah surat Al-Fatiha. InshaAllah akan datang pertolongan Allah.

Nah, yang gw harapkan saat itu benar-benar seperti apa arti dari ayat ini, gw berharap nenek Gustian Tuli, Bisu dan buta seketika. Agar gw bisa menelan ludah dan menarik nafas yang rasanya telah beberapa menit terhenti oleh gelegar raungan si nenek.

Disisi lain gw berharap bel segera berbunyi dan guru masuk menyuruh nenek Gustian yang nyaris melahap gw ini meninggalkan kelas. Gustiannya sendiri ga masuk sekolah, meriang kata neneknya. Dan ketakutan gw bertambah, bahaya kalau dia sampai kenapa-napa. Gw dan geng bisa dilumat jadi terasi.

Endingnya gw disidang diruang guru dan selanjutnya tidak ada lagi aksi tulis nama orang tua dijalan sepanjang SD – Simpang Masjid. Gustian kapok selamanya.

Aisyah

7 Januari di Tangerang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar