Senin, 30 Januari 2017

Kekuatan Cinta

Walaupun amma punya banyak anak, tapi nyaris semua kami tertidur dengan didongengkan. Beliau tetap sempat mendongeng walau kadang sembari menuyusui adik bayi kami. Begitu gw dewasa tak satupun dari dongeng-dongeng amma gw temukan dalam referensi parenting (ehm, ketinggian ya kalo gw bahas parenting) atau pun buku-buku dongeng. Jadi seluruh dongeng-dongeng amma yang mengantarkan gw dan adik-adik kealam tidur itu adalah karangan amma sendiri.

Tentang seorang gadis yang menikah dengan ular, eh tau-taunya seorang pangeran. Karena iri, si tetangga pun mencarikan seekor ular besar di hutan dan menikahkan anak gadisnya dengan ular raksasa itu, tapi keesokannya sigadis sudah berada dalam perut ular tersebut. Mirip-mirip cerita cinderala ya, tapi diadopsi kealam dan ini menjadi dongeng favorit gw sampai ABG (maklumlah anak perempuan kan memang suka sama yang romantis-romantis. Ops!). Ada juga dongeng seorang saudagar yang punya empat istri, dan ternyata tiga dari empat istrinya adalah pemburu harta. Hanya istri pertamanya aja yang benar-benar baik, tuh makanya jaga betul-betul istri pertamnya ya om! Dan satu-satunya the real story of her life yang gw ingat sampe sekarang adalah kekuatan cinta nenek pada kakek.


Kakek meninggal saat nenek berusia 30 tahun, dan meninggalkan lima orang anak, wow yes! Usia tiga puluh tahun udah punya lima anak. Gw seusia ini baru punya satu anak. Anak kucing tetangga yang ngikut mulu kalau gw lewat depan rumahnya. Lupakan.

Nenek gw ini cantik, ramah dan supel sama kayak amma dan beda banget sama gw, udah jelek, jutek, keras kepala pula. Baiklah, kita teruskan, sebagai janda muda, cantik, ramah dan supel nenek gw menjadi ratu para janda, antriannya mengalahkan perawan. Begitulah kira-kira narasi yang disampaikan amma. Tapi toh sampai akhir hayatnya diusia 63 tahun, nenek tidak pernah menikah lagi, bahkan tidak pernah lagi dekat dengan pria manapun. Karena menurut nenek, walaupun nenek dan kakek sering berantem di jaman PRRI, itu hanya karena kakek keseringan cemburu melihat nenek digodain tentara pusat (maksudnya tentara pemerintah yang dikirim ke Sumatera Barat untuk menumpas PRRI). Kakek itu sangat mencintai nenek dan selalu mengalah kalau nenek lagi kambuh hobi ngomel-ngomel nya, selalu membelikan titipan nenek kalau beliau lagi belanja kepasar. Bahkan titipan nenek adalah barang yang paling pertama dibelikan, selain itu ada hal yang lebih penting, yaitu kekuatan cinta.

Kata kakek,
“Numa, kalau ambo mati duluan. Jan disio-siokan anak-anak awak ndak”
(Numa, kalau saya meninggal duluan, jangan sia-siakan anak-anak kita ya)

Nah, menurut nenek jika beliau menikah lagi itu sama saja dengan menyia-nyiakan amanat kakek, yaitu anak-anaknya. Maka dengan segala keterbatasan nenek berjuang membesarkan kelima anak-anaknya sendirian. Tanpa memperdulikan antrian nya yang mengalahkan rekor perawan. Ternyata, berbekal kekuatan CINTA nenek bisa.

Tolong bacakan Al-Fatihah untuk nenek gw ya. Nama beliau NURUMA.

Jazakumullah khairan katsir


Tidak ada komentar:

Posting Komentar