Walaupun amma punya
banyak anak, tapi nyaris semua kami tertidur dengan didongengkan.
Beliau tetap sempat mendongeng walau kadang sembari menuyusui adik
bayi kami. Begitu gw dewasa tak satupun dari dongeng-dongeng amma gw
temukan dalam referensi parenting (ehm, ketinggian ya kalo gw bahas
parenting) atau pun buku-buku dongeng. Jadi seluruh dongeng-dongeng
amma yang mengantarkan gw dan adik-adik kealam tidur itu adalah
karangan amma sendiri.
Tentang seorang gadis
yang menikah dengan ular, eh tau-taunya seorang pangeran. Karena iri,
si tetangga pun mencarikan seekor ular besar di hutan dan menikahkan
anak gadisnya dengan ular raksasa itu, tapi keesokannya sigadis sudah
berada dalam perut ular tersebut. Mirip-mirip cerita cinderala ya,
tapi diadopsi kealam dan ini menjadi dongeng favorit gw sampai ABG
(maklumlah anak perempuan kan memang suka sama yang
romantis-romantis. Ops!). Ada juga dongeng seorang saudagar yang
punya empat istri, dan ternyata tiga dari empat istrinya adalah
pemburu harta. Hanya istri pertamanya aja yang benar-benar baik, tuh
makanya jaga betul-betul istri pertamnya ya om! Dan satu-satunya the
real story of her life yang gw ingat sampe sekarang adalah kekuatan
cinta nenek pada kakek.
Kakek meninggal saat
nenek berusia 30 tahun, dan meninggalkan lima orang anak, wow yes!
Usia tiga puluh tahun udah punya lima anak. Gw seusia ini baru punya
satu anak. Anak kucing tetangga yang ngikut mulu kalau gw lewat depan
rumahnya. Lupakan.
Nenek gw ini cantik,
ramah dan supel sama kayak amma dan beda banget sama gw, udah jelek,
jutek, keras kepala pula. Baiklah, kita teruskan, sebagai janda muda,
cantik, ramah dan supel nenek gw menjadi ratu para janda, antriannya
mengalahkan perawan. Begitulah kira-kira narasi yang disampaikan
amma. Tapi toh sampai akhir hayatnya diusia 63 tahun, nenek tidak
pernah menikah lagi, bahkan tidak pernah lagi dekat dengan pria
manapun. Karena menurut nenek, walaupun nenek dan kakek sering
berantem di jaman PRRI, itu hanya karena kakek keseringan cemburu
melihat nenek digodain tentara pusat (maksudnya tentara pemerintah
yang dikirim ke Sumatera Barat untuk menumpas PRRI). Kakek itu sangat
mencintai nenek dan selalu mengalah kalau nenek lagi kambuh hobi
ngomel-ngomel nya, selalu membelikan titipan nenek kalau beliau lagi
belanja kepasar. Bahkan titipan nenek adalah barang yang paling
pertama dibelikan, selain itu ada hal yang lebih penting, yaitu
kekuatan cinta.
Kata kakek,
“Numa, kalau ambo mati
duluan. Jan disio-siokan anak-anak awak ndak”
(Numa, kalau saya
meninggal duluan, jangan sia-siakan anak-anak kita ya)
Nah, menurut nenek jika
beliau menikah lagi itu sama saja dengan menyia-nyiakan amanat kakek,
yaitu anak-anaknya. Maka dengan segala keterbatasan nenek berjuang
membesarkan kelima anak-anaknya sendirian. Tanpa memperdulikan
antrian nya yang mengalahkan rekor perawan. Ternyata, berbekal
kekuatan CINTA nenek bisa.
Tolong bacakan Al-Fatihah
untuk nenek gw ya. Nama beliau NURUMA.
Jazakumullah khairan
katsir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar