Kamis, 06 Juli 2017

Rumah Sungai Hijau gw, SOLD

Alhamdulillah

Yeay!
Diusilin taqdir itu rasanya asam, asin, pedes, MANIS. Tetep diakhir rasanya manis kok.

My Day. 14 Juni 2017, 19 Ramadhan 1438 H, Ms Aisyah resmi jadi perempuan katro, kampungan dan ga kekinian. Gimana engga, mulai tanggal itu gw ga lagi cewek pemegang CC (credit card alias kartu HUTANG) berlimit seharga mobil Ayla ter up date secara resmi, ga lagi punya cicilan (kata nya sih, tak punya cicilan lambang kemiskinan), entahlah. Dan inshaAllah bebas RIBA secara permanen (bagial ini sensitif, bukan buat Riya tapi pure gw share apa yang menjadi bagian perjalanan seorang anak manusia yang selemah gw ini. Itu aja). Sekaligus gw homeless, hahahahaha

Kamis, 13 April 2017

Dijual Rumah Beserta Hati Pemiliknya

Setelah bebas dari segala tagihan riba. Alhamdulillah. Gw merasa hidup gw akan tenang dan berbunga-bunga. Seperti daisy dipagi hari. Beban berton-ton dikepala gw yang menggantung beberapa tahun dan tentunya penuh dosa telah pergi, InshaAllah untuk selamanya. Rumah gw yang masih dalam anggunan ke bank dan cekikan cicilan kartu kredit lenyap seketika. Begitu kesepakatan tanda jadi penjualan rumah ditandatangani, maka gw berseru.

Alhamdulillah

Finally!!!

Gw pulang kerumah dengan tenang namun sedikit perasaan dingin. Bahwa rumah yang gw buka pintunya sekarang bukan milik gw lagi. Milik sipembeli yang beberapa puluh menit lalu saling berdiskusi untuk kesepahaman pembayaran. Finish ya, beban itu hilang.

Kamis, 16 Maret 2017

Hari ini gw Rindu Kakek

Gw ketemu kakek cuma sebentar, yang gw ingat dari beliau adalah pemilik 3 lembar baju tetoron kasar yang beliau jahit sendiri. Katun kasar itu dua helai berwarnah hitam dan satunya berwarna putih. Padahal beliau hitungan orang paling kaya dikampung kala itu. Pemilik tanah paling luas dan rumah paling besar, semasa mudanya (saat mobil hanya dimiliki pemerinta kolonial), beliau punya banyak sekali pedati, setara mobil untuk masyarakat kelas tiga (kelas satu adalah bangsa kulit putih, kelas dua orang2 cina dan kelas tiga warga pribumi).
Beliau selalu sholat diawal waktu dan rajin sekali sholat sunah, tekun bekerja bahkan sampai H-3 kematian biau. Puasa sunah beliau senen kamis dan beliau menyayangi semua cucu-cucunya tanpa kecuali.

Sabtu, 11 Februari 2017

Menembus Ring 1 Menuju Istiqlal (catatan Aksi 112)

Masih ingat dua gadis yang gw 'sandera' untuk ikut aksi 112 kemaren. Ternyata mereka dan gw beda tipe. Maka perjanjian jalan fix jam 5:00 dilonggarkan jadi 6:30 dan faktanya kita jalan 7:30 dari rumah. Klise, hari hujan. Tapi okelah, gw kan bukan orator diaksi 112. trus Ga mau ke stasiun pake motor, becek. Akhirnya kita nge-UBER

Berangkat, nyampe Tanahabang jam 8:15, gw ajak nge-gojek menuju istiqlal. Eh, hujan. Kalo nge-UBER lagi pasti mobil sudah ga bakal bisa sampai Istiqlal. Well, naik angkot ke RRI, trus jalan menuju Masjid Istiqlal. Karena memang tidak punya pilihan lain.
Nah, disinilah cerita menembus RING 1 dimulai.