Kamis, 15 Desember 2016

Tips Menjemur Pakaian (Sesuai Gunjingan Emak-Emak)

Years Later, Suatu Siang di Pulau payung
aku belajar dari gunjingan ini,
waktu itu aku masih SMP, dikantin sekolah. kalau tidak salah waktu itu aku nongkrong dikantin dengan sepiring lontong pical. aku cabut, maklum anak setengah bandel, yang penting prestasi kan oke, hehheehe
kira-kira bunyi gunjingan itu seperti ini
ibu A : anak sianu (sebut nama), udah gadis, kalo jemur pakaian kayak tong sampah
ibu B : iya, apa ga diajarin ya sama mak nya
ibu A : anak sama mak nya sama aja
ibu B : setidak nya ya dipisahkan la ya,..... atasan sama atasan, bawahan sama bawahan, pakaian dalam jangan di campur kain lap,

aku diam-diam nguping, Oooooo,....ternyata itu standarisasi nya. besok-besoknya kalau aku jemur pakaian sering aku periksa ulang, sudah standar belum aturan nya xixiixixi....
kadang hal-hal kecil begini, atas ketidak berestetikaan nya kita dalam beberapa hal bisa menyebabkan orang lain berdosa dengan menggunjingi kita.
so?

Selasa, 13 Desember 2016

Air Mata Buaya Sang ABG

Years Later :)
Ini cerita gw tahun 1999
(AIR MATA BUAYA ABG)

Sebagai ABG labil dan sedikit punya massa juga masalah disekolah. Maka ulah gw ga tanggung-tanggung. Demo Turunkan SPP dan Turunkan Kepsek!

Kenapa gw bisa punya massa cukup?
Secara penasehat Osis, secara juara umum bertahan level 2 (bisa nembus level satu sekali2 nya pas mau tamat, huh!) dan ketua kelas pula, maka orasi gw yang berapi-api sepulang sekolah itu dapat takbir luar biasa dari ABG labil lainnya.

Fix, besoknya kita DEMO!

Jumat, 02 Desember 2016

Nenek Ju dan Aksi 212

Nenek Ju, Peserta Aksi 212

Nenek Ju Ini sudah gadis saat penjajahan jepang (pengakuan beliau), sempat tidak dibolehkan oleh anak-anak dan cucu untuk ikut aksi bela Islam 212. Tapi beliau bersikeras untuk ikut.
Kata beliau 
"Allahuakbar, kebenaran harus diperjuangkan"

Jalan beliau tegap, sesekali berhenti untuk bertakbir walau suara beliau serak karena usia. Beliau sangat ramah dan selalu tersenyum saat diajak ngobrol atau foto bareng, sedangkan kedua tangan beliau memegangi poster penjarakan PENISTA AGAMA dengan kokoh.
Ada seorang ikhwan yang berujar,
"Wah nenek jadi selebriti nya 212 nih"

Catatan Aksi Super Damai 212

Aksi Bela ISlam Tiga (212) di Monas


SAYA KECEWA!!

Jujur, saya tidak puas dengan aksi damai 212 ini. Bayangkan, dengan enam juta orang yang datang dengan segala keringat darah. ENAM JUTA ORANG. Dan kita hanya berdoa bersama dan sholat dibawah guyuran hujan, jangankan mengetuk pintu pagar istana, jalan dari monas menuju istana saja dijejelin kawat berduri dan kita pun tak hendak menyentuhnya. Saya kecewa, sebegitu lemah lembut (baca: tak berdaya), sebegitu pemaaf (baca : hingga tak tau apa itu harga diri), sebegitu pengecut (sudah berjuta orang pun tak sanggup berbuat apa-apa) nya umat Islam ini.

Buat apa jauh-jauh berjalan kaki 300 kilo meter sampai kaki berdarah-darah kalau hanya untuk sholat jumat berjamaah saja dilapangan dengan guyuran hujan. Hanya begitu saja? Aksi ini aksi mahal!