Sambil lewat tadi gw lihat ultimatum kapolda jabar untuk Habib Rizieq. Katanya
"Kalau sampai malam ini max jam 00:00 dia masih tidak datang untuk diperiksa, maka KAMI akan jemput paksa"
Ekspresi kapolda ini kayak ISTRI yang baru nemuin BUKTI VALID suami SELINGKUH . Sadis, penuh dendam, amarah dan sekaligus tertekan.
Astagfirullah, mari kita istigfar bersama. Dan mari kita ingat-ingat. Bagaimana dulu mujahid dan syuhadah kita merebut kemerdekaan dari agresor BELANDA. Setelah 350 tahun tho kita bisa. Dan penjajahan Komunis ini belum se kristal itu. InshaAllah kita bisa.
Dulu tuanku Imam Bonjol, Pangeran diPonegoro, Sultan Hasanuddin dan sebutkanlah para mujahid besar bangsa ini. Mereka juga dibunuh, dibuang, dipenjara. Surutkah perjuangan itu?
Kalau mau menapak tilas bagaimana derita Pangeran diponegoro dalam penjara, sesekali kawan berkunjunglah ke museum Fatahillah, kota Tua Jakarta. Lihat ruang bawa tanah dibangunan itu. Disitulah penjara masa lalu. Masih ada marbel2 beton dan rantai yang melekat kekaki beliau berserakan disana. Kini.
Tapi,
Tapi kawan. Apakah perjuangan itu surut? Tidak. Kita akhirnya bisa membuat Belanda terkencing-kencing lari dari negeri ini dan aset-aset yang mereka sombongkan kembali menjadi milik Pribumi. Begitupun Cina melalui kuku-kuku Beruk nya disini sekarang. Kita bisa lakukan hal serupa. Tanpa atau dibawah komando Habib Rizieq atau Ustadz Bakhtiar Natsir yang sekarang sedang atau mungkin telah ditahan. Kita bisa. Kita bisa lakukan itu.
Tentang pun anasir dan pribumi yang mati-matian membela penjajah. Ketahuilah ini bukan hal baru. Banyak priyayi jawa dan petinggi adat diPadang zaman penjajahan yang jadi antek Belanda. Justru perjuangan itu harus dimulai dari menyadarkan atau MENSOLATKAN mereka. Hukum untuk pengkhianat itu ada.
Perjuangan ini bukan soal tokoh, tapi soal iman. Islam bersinar didada kita sampai hari iini, meski sang pembawa panji utusan Allah itu telah kembali padanya 1446 tahun silam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar